SELAYANG PANDANG SEJARAH DESA ARYOJEDING, KECAMATAN REJOTANGAN
Oleh Agus Ali Imron Al Akhyar
Staf Peneliti KS2B Tulungagung
Keberadaan
daerah tentunya memiliki identitas lokal yang menjadikan ciri khas dari
daerah tersebut. Sifat kedaerahan terwujud dari keberadaan kearifan
lokal yang terdapat pada daerah itu, selain itu identitas yang lain bisa
juga terbentuk dari rangkaian cerita-cerita lokal, yang bersifat
sejarah. Rekaman jejak-jejak sejarah terbentuk dari berupa rangkaian
cerita yang bisa dibuktikan dengan keberadaan bukti sejarah, seperti
makam, pohon keramat, masjid, maupun prasasti tulis. Menjunjung tinggi
kearifan lokal membentuk kesatuan sistematis kedaerahan yang mampu
memberikan kontribusi kepada masyarakatnya. Pengembangan dan
pemberdayaan sifat lokal yang positif, akan memberikan kontribusi
didikan secara tidak langsung.
Pemikir-pemikir
purba telah menarik perhatian mengenai sifat yang khas manusia, yaitu
berpikir. Di dalam perkembangannya berpikir sebagai cabang dari
falsafah, yaitu logika, memberikan perhatian kepada proses menarik
kesimpulan (inferensi). Di dalam proses ini inferensi yang sifatnya
deduktif dalam mencari kebenaran (truth) dari berbagai premis. Menarik
kesimpulan seperti ini sifatnya tentunya dapat dipercaya (credible),
tetapi belum memberikan kepastian. Mengambil kesimpulan berkaitan dengan
perkiraan nilai-nilai dari opsi mengenai kemungkinan yang diperoleh
yang akan memberikan hasil tertentu. Memecahkan masalah (problem
solving) berarti konstruksi dari tindakan yang akan diambil untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Proses yang digambarkan di atas
merupakan proses berpikir (Tilaar, 2012:47).
Kearifan lokal
berngkat dari suatu pemikiran yang dapat menunjukkan sebuah hasil,
maksudnya dengan keberadaan sebuah pemikiran tentunya akan menghasilkan
pemikiran-pemikiran yang normatif dan fleksibel untuk masyarakat.
Kearifan lokal dapat menjadikan trobosan-trobosan berbagai sisi
kehidupan masyarakat. Tinjauan dari kearifan lokal bisa dari sisi
kebudayaan, kesenian, kesejarahan, dan kesosialan. Masyarakat yang
majemuk seharusnya mampu mewujudkan identitas kedaerahannya dengan baik
tanpa ada korban kemnafikkan. Sehingga dengan kemajemukkannya tersebut
akan terwjud kearifan lokal yang dinamis, harmonis, dan romantis. Sifat
ciri khas kedaerahan akan muncul, serta secara tidak langsung akan
menjadi ikon kedaerahan.
GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFIS DESA ARYOJEDING
Suatu daerah
akan bisa terkenali dengan keberadaan suasana alamnya, maupun
geografisnya. Keberadaan daerah Desa Aryojeding memang berada
diperbatasan dengan Kabupaten Blitar, tepatnya di sebelah barat
Kabupaten Blitar. Di dalam kesejarahan, keberadaan daerah Aryojeding
memang dimiliki oleh Kabupaten Blitar. Namun kemudian waktu keberadaan
Desa Aryojeding mengikuti administrasi Kabupaten Tulungagung. Bahkan
kalau dihitung dengan jarak tempuh, keberadaan Desa Aryojeding lebih
dekat dengan Kabupaten Blitar dibanding dengan jarak tempuh ke Kabupaten
Tulungagung.
Di Kadipaten
Aryo Blitar terdapat dua desa, yaitu Desa Aryoblitar dan Desa Jeding.
Desa Aryoblitar terbagi atas dua dusun, yaitu dusun Aryoblitar dan dusun
Dungmanten. Desa Jeding terbagai atas tiga dusun, yaitu dusun Gludug,
dusun Jeding Lor dan dusun Jeding Kidul. Kemudian kedua desa ini
dijadikan satu menjadi Desa Aryojeding dan terbagi menjadi lima dusun
sampai dengan sekarang. Luas Desa Aryojeding adalah 287.061 Ha dengan
batas-batas:
• Bagian Utara : Sungai Brantas
• Bagian Selatan : Desa Tegalrejo
• Bagian Barat : Desa Buntaran
• Bagian Timur : Desa Rejotangan
Desa Aryojeding
termasuk di kawasan dataran rendah, yang berada di sebelah selatan
Sungai Brantas, sehingga apabila kita ketahui masih banyaknya keberadaan
nambangan yang terdapat dipinggiran Sungai Brantas. Keberadaan
masyarakatnya yang mayoritas penganut NU atau Nahdlatul Ulama’, sehingga
secara tidak langsung masih mengkultur Islam dan Jawa. Berbagai adat
masih nampak jelas, ketika pengamatan dalam beberapa bulan. Sedangkan
itu, dibagian selatan Desa Aryojeding sudah berupa deretan pegunungan
KBH Wilayah Blitar.
Kebudayaan atau
kultur memang sangat berperan penting dalam membangun keberadaan suatu
daerah. Dengan keberadaan kebudayaan tersebutlah kita bisa menyebutkan
dengan istilah ikon kedaerahan. Sampai tahun 2010 jumlah penduduk Desa
Aryojeding sebanyak 5.387 jiwa, terdiri atas 2.782 laki-laki dan 2.605
perempuan. Adapun pejabat lurahnya yang memimpin Desa Aryojeding sampai
tahun 2011, diantaranya sebanyak 21 orang, yaitu :
• Uwir
• Dipo
• Kromorejo
• Djojo Kromo
• Suryo Karyo
• Sadimedjo
• Kartodimedjo
• Kriyomedjo
• Kromotedjo
• Suro
• Guno Basari
• Kartowidjojo
• Kasan Radji
• Mangunkarto
• Kosmen
• Moh. Tojib
• Moh. Irpangi
• M. Adnan
• F. Sutiyo
• Afandi Supriyono
• Sugeng
Dalam sudut
pandang pekerjaan, warga Desa Aryojeding mayoritas memiliki peternakan
ayam telur dan ikan serta menanam buat blimbing, jamu merah, dan daun
jeruk meskipun ada pula yang sebagai pedagang, selain itu ada juga yang
menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Tanah Desa
Aryojeding memang nampak subur, dan mudah untuk di tanami, sehingga
masyarakatnya bisa dibilang subur makmur.
KILASAN SEJARAH
Sejarah
merupakan perwujudan yang saat ini bisa kita rasakan, keberadaan sejarah
adalah jejak-jejak bukti keberadaan suatu objek, yang nantinya
diabadikan menjadi torehan sejarah untuk rekaman proses kehidupan.
Sejarah menjadi wacana bagi para intelektual untuk dijadikan pijakan
dalam mengambil keputusan. Sejarah sangat berperan penting, dan memiliki
kedudukan kuat dalam kehidupan, mengambil keputusan dengan bijak pada
dasarnya menggunakan referensi sejarah. Begitu pula dengan keberadaan
suatu daerah atau desa, tentunya daerah tersebut tidak langsung begitu
ada, melainkan sejarah mengiringinya.
Sejarah Desa
Aryojeding berdasarkan sejarah, di Desa Aryojeding Kecamatan Rejotangan
terdapat suatu tempat bersejarah yang biasa disebut dengan istilah
petilasan Kadipaten Aryo Blitar. Petilasan yang sebelumnya oleh
masyarakat setempat dikenal keramat ini adalah tempat berdirinya
Kadipaten Aryo Blitar. Kadipaten ini dipimpin oleh seorang adipati,
Adipati I bernama Nilo Suwarno, Adipati II bernama Ki Ageng Sengguruh,
sedangkan Adipati III bernama Joko Kandung. Namun Joko Kandung tidak
meneruskan kekuasaannya melainkan meninggalkan kadipaten dan tidak
pernah kembali. Sehingga Kadipaten Aryo Blitar terjadi kekosongan
kekuasaan dalam waktu yang cukup lama.
Petilasan ini
banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah dengan tujuan berbeda-beda.
Pada masa G-30S/PKI tahun 1965 petilasan ini pernah dihancurkan warga.
Makam Adipati II Aryo Blitar yaitu: Ki Ageng Sengguruh terdapat di dusun
Pundensari Desa Rejotangan, bersebelahan dengan makam istrinya. Di
sekelilingnya terdapat makam-makam keturunannya. Makam ini juga banyak
dikunjungi orang dari berbagai daerah. Warga Dusun Pundensari
beranggapan mereka yang tinggal di Dusun Pundensari dilarang menikah
dengan warga Desa Aryojeding. Warga Pundensari juga dilarang menggelar
kesenian Tayuban dan berpoligami. Jika dilanggar akan sering mendapat
musibah.
Namun ada
sepenggalan cerita lisan yang dituturkan oleh Bapak Mulyono dengan umur
48 tahun, Seorang bangsawan menengah ke atas yang bernama “Aryo Blitar”,
beliau mempunyai putra yang bernama “Joko Kandung”. Dia adalah seorang
pengembara yang ditemani oleh burung setianya. Suatu ketika Joko Kandung
singgah disebuah daerah tanpa nama. Bertahun-tahun Joko Kandung menetap
di daerah tersebut. Selang beberapa tahun kemudian setelah Joko Kandung
meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanannya. Oleh warga
setempat desa itu dinamakan “Aryojeding”. Joko Kandung singgah disebuah
pegunungan. Setiap pagi ia mandi di telaga kecil di bawah sebuah pohon
besar. Disamping pohon besar itu terdapat sebuah pohon bambu besar,
tempat ia menaruh burung ajaibnya yang dapat berbicara dengan manusia.
Akhirnya Joko Kandung meninggal dan dimakamkan di Desa Aryojeding
tersebut. Mitos sampai sekarang tempat Joko Kandung mandi bersama
burungnya dijadikan sebagai tempat pencarian pesugihan.
Memang istilah
nama Joko Kandung sampai saat ini masih ada, dengan sebutan hutan
kandung, yang tepatnya di sebelah selatan Desa Aryojeding. Kawasan hutan
kandung memang saat ini menjadi objek untuk tempat bermain, rekreasi,
pacaran, dan lain sebagainya. Sedangkan makam Ki Ageng Sengguruh,
tepatnya berada di sebelah utara perlintasan rel kereta api, atau di
daerah Aryo Blitar. Area makam Ki Ageng Sengguruh memang berdekatan
dengan Sungai Brantas.
Kawasan
Aryojeding memang terkenal dengan kultur agamisnya yang masih kuat,
berbagai tautan antara agama dengan kejawen masih kental. Sehingga
apabila ada kegiatan ruwatan maka antara kultur dan agama menjadi
kesatuan yang elastis dinamis. Keberadaan tempat ibadah di Desa
Aryojeding dan Desa Aryo Blitar memiliki empat masjid, istilahnya masjid
I, masjid II, masjid III, hingga masjid IV. Untuk itu keberadaan Desa
Aryojeding dan Desa Aryo Blitar tidak dapat dipisahkan keberadaan
sejarahnya.
PENUTUP
Sejarah memang
menjadi tolok ukur, berbagai sudut pandang menyajikan implementasi yang
berbeda-beda. Nilai-nilai luhur mempelajari sejarah, setidaknya kita
mampu untuk menelaah dan memperbaiki proses perjalanan hidup. Sejarah
lokal memang sangat berpotensi besar untuk mewujudkan basis sejarah
dalam skala nasional. Sebelum matahari tenggelam lama di ufuk barat,
setidaknya kita sebagai generasi muda berangsur-angsur untuk mendapatkan
proses pembelajaran dari skala daerah. Kearifan lokal yang ditimbulkan
dari suatu wilayah mempunyai ciri khas tersendiri, jadi sepatutnya
memiliki kearifan lokal yang kita dapati dari mempelajari nilai-nilai
positif yang terdapat di daerah.
Kalau kita
lihat dari berbagai sisi sudut pandang, kekayaan sejarah lokal memang
sangat berarti, seperti ditinjau dari sudut pandang nilai estetika,
nilai keberagamaan, dan nilai positif lainnya. Suatu peristiwa sejarah
memiliki rentetan yang panjang, dan tidak boleh langsung diklaim dengan
pandangan negatif, tentunya kita cari dulu unsur-unsur awal keberadaan
sejarahnya. Dari berbagai olahan hasil tersebutlah akhirnya bisa
memberikan penilaian yang normatif tanpa adanya menimbulkan gejolak pro
dan kontra. Namun sejarah lokal memiliki unsur kearifan lokal yang
tinggi yang mampu mencerminkan nilai positif untuk membentuk karakter
normatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar