SEJARAH TAJ MAHAL
Di antara sekian banyak warisan UNESCO di India, Taj Mahal merupakan
destinasi utama yang biasanya menjadi niat awal para turis mengunjungi
negara ini. Namanya muncul lebih dari 42 ribu kali bila kita memasukan
kata kunci ini di kotak pencarian Google. Berbagai ulasan di beberapa
situs wisata mengenai tempat ini banyak mengungkap keindahannya yang
mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya dan dibuktikan dengan
adanya pengunjung yang dapat mencapai sekitar 45 ribu per hari.
Menulis tentang Taj Mahal ternyata lebih sulit daripada
menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Taj Mahal adalah salah satu
monumen di India yang tidak mampu dideskripsikan keindahannya melalui
torehan pena. Mengunjungi Taj kali kedua ini, saya bermaksud membuktikan
semua kontroversinya yang pernah marak beberapa tahun lalu. Entahlah,
kisah cinta yang melatarbelakangi pembuatan monumen ini yang selalu
didengung-dengungkan menurut saya masih “kurang cukup” sebagai alasan
pembuatannya.
Berlokasi di Agra yang merupakan bagian utara dari Uttar Pradesh, di
pinggir sungai Yamuna, Taj Mahal konon dibangun pada tahun 1631 oleh
Shah Jahan, seorang raja dari dinasti Mughal sebagai bentuk cinta
kasihnya terhadap istri ketiganya yang bernama Mumtaz ul-Zamani. Mumtaz
sendiri diceritakan meninggal dunia saat melahirkan anak ke-14 nya.
Bagian utama mausoleum selesai pada tahun 1648, sedangkan lima tahun
berikutnya daerah taman dan bangunan lainnya baru dapat diselesaikan.
Taj Mahal sendiri merupakan gabungan dari arsitektur Mughal dan Persia,
dan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan dari penjuru dunia lainnya,
misalnya Afganistan, Arab, Bangladesh, Sri Lanka, Cina, dan lainnya.
Marmer putih merupakan bahan utama dalam pendirian bangunan megah ini
selain berbagai jenis batu berharga lainnya dan konon diperoleh dari
daerah Makrana, Rajashtan. Dua puluh ribu buruh bekerja siang-malam
selama 22 tahun untuk membangun Taj yang megah ini.
Agra dapat dicapai dengan menggunakan kereta api, bis ataupun pesawat
dari kota-kota besar di India. Perjalanan kereta api dari New Delhi
sekitar dua jam saja.
Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11.
Memasuki Taj Mahal, pengunjung lokal akan dikenai biaya 10 rupee
(kecuali kunjungan malam 510 rupee), sedangkan turis asing 750 rupee,
tiga kali lipat bila dibandingkan tempat peninggalan UNESCO lainnya.
Barang-barang elektronik, rokok, korek api, dan bahkan makanan atau
minuman tidak diperkenankan untuk dibawa. Sebagai gantinya, pengunjung
akan mendapatkan satu botol air mineral setelah membayar tiket masuk.
Pengamanan saat memasuki Taj Mahal hampir serupa di bandara. Wajar saja,
mengingat beberapa kali monumen ini diancam akan dibom oleh teroris.
Bagi para fotografer, pemakaian tripod tidak diperkenankan (percayalah,
saya tidak pernah mengerti alasannya) dan harus ditinggal di bagian
sekuriti. Kotak deposit disewakan di bagian sekuriti dengan biaya 20
rupee saja. Namun saran saya, sejak awal, hanya membawa tas tangan
berisikan kacamata hitam, dompet, hp dan kamera saja untuk menghindari
masalah dengan sekuriti ini. Taj Mahal dapat dikunjungi kapanpun,
kecuali hari Jumat. Tidak disarankan datang saat musim panas, karena
temperaturnya biasa mencapai 50 derajat.
Darwaza-i Rauza merupakan pintu gerbang utama yang akan kita
temui sesaat sebelum memasuki area utama Taj Mahal. Dari gerbang ini
dapat dilihat kekuatan arsitektur Mughal yang seirama dengan tulisan
kaligrafi yang terlukis di dinding Taj Mahal nantinya.
Setelah itu, kita akan disambut dengan taman Mughal seluas 300m.
Taman ini terbagi empat dengan adanya air mancur dan sepasang jalan
setapak. Konon taman ini merupakan penggambaran dari lukisan tentang
surga yang memiliki 4 sungai yang mengalir di dalamnya. Desainnya
simetris sedemikian rupa bagaikan bayangan pada kaca dan semua mengarah
ke mausoleum. Terdapat kolam berbentuk oktagonal di pertengahan taman
yang dapat menunjukkan refleksi Taj di dalam air. Hingga kini, taman ini
merupakan area yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk
mengabdikan momen di Taj Mahal dengan kameranya atau sekedar duduk-duduk
menikmati keindahan taman yang cukup teduh. Di pertengahan taman
terdapat sebuah bangku marmer yang biasanya menjadi tempat bagi para
pengunjung untuk berfoto dengan gaya seperti sedang “menjepit” bagian
kubah dari Taj Mahal. Bangku ini merupakan bangku yang sama yang
diduduki Ratu Diana saat berfoto di depan Taj Mahal.
Di penghujung taman, menjulanglah sosok bangunan utama dari komplek
ini yaitu daerah mausoleum yang berbentuk struktur oktagonal simetris
dengan empat buah pintu masuk berbentuk lengkung busur. Bangunan marmer
putih ini ditaburi arsitektur campuran Persia dan Hindustani. Di
sana-sini tampak berbagai pahatan dekoratif dan bunga lotus. Kaligrafi
Qur’an mewarnai dinding dengan torehan surat Ya Sin, Al Fajr, AL Ikhlas,
dan lain-lain.
Keempat menara (
chattris) yang juga berbentuk simetris
berada di sekeliling mausoleum ini. Nampak pula kedua makam dari
Mumtaz. Di sinilah pemandu tur biasanya akan membuai Anda dengan kisah
cinta sang raja yang telah jatuh cinta pertama kali pada Mumtaz saat
melihatnya dari balik dinding istana semenjak usia 15 tahun. Mumtaz
digambarkan sedemikian cantiknya, yang bahkan diungkapkan dengan untaian
baris kata, “
even the moon feels shy to hit her face“. Di
kanan dan kiri mausoleum ini terdapat bangunan yang hampir sama miripnya
satu sama lain, terbuat dari batu pasir merah, dimana yang satu
diperuntukan untuk mausoleum kedua istri Shah Jahan lainnya dan yang
satunya sebagai makam pembantu kesayangan Mumtaz itu sendiri. Di
penghujung kompleks ini sendiri terdapat dua bangunan lainnya, yang
digunakan sebagai masjid dan
guest house. Desain masjid ini
hampir sama dengan desain Jama Masjid di Delhi yang juga dibangun Shah
Jahan. Tampak struktur lain yang lebih kecil yang konon merupakan
music house di zamannya dan kini dijadikan museum.
Keindahan Taj selain menimbulkan decak kagum, namun juga berbagai
mitos dan kontroversi turut berjalan mengiringinya. Adalah P.N. Oak,
seorang penulis dari India yang memperdalam mitologi, mengungkap “cerita
sesungguhnya” dari Taj Mahal melalui bukunya pada tahun 2001.
Sedemikian kuatnya kontroversi ini sehingga pemerintah India melarang
pencetakan buku dan bahkan mengancam para penerbit yang berusaha
mencetak ulang. Cerita P.N. Oak inilah yang membawa saya kembali
mengunjungi Taj setelah bertahun-tahun larut dengan kisah cinta dari
tempat ini, yang mestinya dibangun dengan alasan lebih dari sekedar
cinta di baliknya. Bagi saya sendiri, semua monumen di India memiliki
cerita yang cukup unik untuk ditelusuri.
Opini mengenai Taj awalnya adalah sebuah kuil Shiva diawali dengan
kerancuan arti dari nama Taj itu sendiri. Seperti kita telah tahu bahwa
pada kata Mumtaz, terdapat lafal Taz dan bukan Taj. Mahal sendiri dapat
diartikan sebagai istana; bukan mausoleum atau makam. Nama Taj Mahal
sendiri tidak pernah muncul dalam beberapa pencatatan selama dinasti
Shah Jahan atau anaknya, Aurangzeb. Padahal dengan jumlah buruh
sedemikian banyak dan modal uang yang sedemikian besar untuk
membangunnya, sewajarnya terdapat pencatatan mengenai hal ini. Nama Taj
ini bahkan justru lebih sering disebutkan dengan kata Tejo Mahalaya,
yang menunjukan sebagai nama kuil Hindu bagi Shiva. Aurangzeb yang
memang terkenal anti-hIndu bahkan lebih sering menyebutnya sebagai
tempat suci.
Di India, konon pernah disebutkan adanya 12
jyotirlingas
(lambang Shiva yang utama) dan dikatakan yang terbesar dan terakhir
berada di Taj dalam bentuk Naganathesawar; di mana Shiva berada dalam
relung ular kobra. Struktur ini yang diprediksi tertimbun di bawah makam
“palsu” dari Mumtaz di areal Taj. Agra sendiri sebagai kota Shiva
memiliki ritual dan kepercayaan kuno yang telah berlangsung berabad
tahun lamanya. Kepercayaan Agra juga menunjukkan bahwa kota ini memiliki
lima patung Shiva, yang hingga kini baru ditemukan empat di antaranya,
oleh karena di Taj Mahal-lah patung shiva kelima ini konon berada.
P.N. Oak juga menuturkan berbagai bukti lainnya, misalnya kadar
karbon-14 pintu sisi timur Taj yang ternyata berusia 500 tahun sebelum
masa pemerintahan Shah Jahan dan hilangnya struktur gajah yang pernah
disebutkan oleh turis asing yang pernah mengunjungi Taj pada masa 1700
an. Tidak diketahuinya secara jelas kapan Mumtaz sebenarnya meninggal
dunia, kapan Taj didirikan, dan kenyataan bahwa Shah Jahan memiliki
lebih dari 5000 wanita di haremnya membuat motif pembuatan Taj berdasar
cinta semata rasanya terlalu dipaksakan.
Langkah kaki saya berusaha menyelami bukti arsitektur Taj sebagai
kuil Hindu yang konon merupakan rampasan perang dari seorang Raja Rajput
bernama Jaisingh dari Jaipur. Di awali dengan gerbang utama, maka dapat
dilihat motif seperti kubah atau mangkuk terbalik selalu berjumlah
ganjil, yaitu 11, dimana hal ini merupakan kepercayaan dalam Hindu.
Memasuki daerah makam yang octagonal. Oktagonal merupakan bangunan
bergaya Hindu, karena Hindu sendiri memiliki arti 8 arah mata angin.
Keempat menara yang ada di sekililing bangunan utama juga merupakan
arsitektur Hindu, karena menara (minaret) dalam bangunan Muslim umumnya
berada pada bahu bangunan utama, sedangkan pada Hindu berdiri dari
bagian lantainya. Ornamen lotus yang menghiasi di seluruh dinding Taj
Mahal jelas bukan menampilkan ciri Islam, karena memang lotus merupakan
lambang dari Hindu. Hal ini makin diperkuat oleh adanya lambang Trident
yang tersembunyi di antara struktur lotus ini. Trident ini sendiri
merupakan lambang dari dewa Shiva. Pada bagian atap dari kubah Taj,
tampak lambang yang sering disalahartikan sebagai lambang bulan sabit
dan bintang. Namun bila diperhatikan secara awas, maka lambang ini
membentuk
kalash (pot sesembahan) dan kemudian buah kelapa dan
dua buah daun mangga yang jelas merupakan ciri persembahan pemeluk Hindu
bagi Dewanya. Tampak di sana-sini motif ular menghiasi dinding Taj,
sebuah struktur yang tidak mungkin ada di bangunan Muslim di belahan
dunia manapun.
Bila kita memperhatikan dengan seksama, saat kita memasuki bangunan
utama Taj, maka dapat terlihat bahwa Taj sebenarnya tidak hanya memiliki
satu lantai. Taj sendiri ternyata memiliki tujuh lantai dengan jumlah
ruangan hingga 1.000 buah, sebuah kenyataan yang rasanya tidak pas
dengan sebutan moumen untuk sebuah makam. Lantai paling dasar yang
berada di bawah permukaan air sungai (ciri dari bangunan kuno Hindu)
terkubur dalam pintu batu bata. Konon di lantai inilah beberapa patung
dewa Hindu ditempatkan di sana. P.N. Oak menuturkan bahwa Taj didirikan
di pinggir sungai atau pantai, suatu kekhasan dari kuil Hindu yang
memang selalu mendirikan bangunan kuilnya di dekat sungai dan menghadap
ke arah Timur.
Mumtaz sendiri meninggal di Bushnapur dan makamnya hingga kini masih
terdapat utuh di sana. Maka dipertanyakanlah keberadaan kedua makam di
dalam Taj dan mengapa satu makam terletak lebih tinggi dibanding makam
yang lain. Apakah bagian tubuh Mumtaz terbelah dua? PN Oak menuliskan
bahwa makam ini seakan dibuat untuk menutupi “sesuatu”. Di bagian depan
makam akan kita dapati lantai datar tanpa ornamen yang konon awalnya
merupakan tempat patung Nandi (sapi) yang memang biasa terletak
berhadapan dengan dewa Shiva di setiap bagian depan altar kuil Hindu.
Music House yang berada dalam kompleks makin menunjukkan bahwa bangunan
ini bukan merupakan bangunan Muslim, karena memang hanya di Hindu
terdapat ruang ini untuk mengakomondasi para pemeluknya bernyanyi saat
beribadah.
Perjalanan saya ke Taj kali ini tidak membuat saya terjebak dalam
opini kontroversi tentang asal muasal Taj. Keindahan bangunan yang
dengan seluruh kisah masa lalunya mestinya tidak perlu diperdebatkan.
Sebuah bangunan yang membuat India merasa bangga memilikinya sebagai
warisan kunonya. Amatlah wajar apabila memang benar Shah Jahan merubah
kuil Hindu sebagai bukti kekuasaannya yang telah menang terhadap raja di
Rajashtan. Shah Jahan sendiri nampaknya tidak berniat untuk memperoleh
kredit atas pendirian Taj. Oleh karenanya struktur awal Taj dirombak dan
bagian emas serta batu berlian lainnya dipindahkan dan kaligrafi Quran
ditorehkan, hanya agar struktur ini tidak kembali direbut oleh Raja
Rajput. Mungkin itulah alasannya mengapa bangunan ini tidak tercatat
pendiriannya. Entahlah.
Memandang Taj di kejauhan, maka yang tertinggal hanyalah decak
kekaguman dan haru akan suatu monumen megah di pinggir sungai suci
Yamuna, yang punya cerita cinta yang sangat besar sebagai latar
belakangnya. Sebuah cerita cinta seorang raja terhadap ratu yang paling
dikasihinya atau cerita cinta pemeluk Hindu terhadap dewa Shivanya…
http://ranselkecil.com/tempat/taj-mahal-sebuah-memorial-cinta-atau-kuil-bagi-shiva/
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah
Karya : Chairil Anwar
link :
http://www.puisipendek.net/sajak-putih.html
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah
Karya : Chairil Anwar
link :
http://www.puisipendek.net/sajak-putih.html
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah
Karya : Chairil Anwar
link :
http://www.puisipendek.net/sajak-putih.html