Siapa yang tidak mengenal Fir’aun dan sejarahnya, tentu bisa
digolongkan sebagai manusia yang tidak peka atau terlalu cuek, atau
tidak memahami sejarah. Atau terserah digolongkan sebagai manusia
bagaimana? Kisah yang cukup melegenda, hingga kini. Berlatar belakang
Mesir yang eksotik dengan gurun pasirnya. Berbagai kebudayaan yang
menyelimutinya, semakin menjadikan Mesir dan kisah Fir’aun cukup seru
untuk digali para ilmuan.
Mesir dengan berbagai kota tuanya, piramid, dan benda-benda
purbakala yang dimilikinya pun akan semakin membuat para ilmuan
penasaran dan terus melakukan penelitian yang tiada henti. Terutama
kisah raja-rajanya. Bangsa Mesir kuno, sangat mengagung-agungkan raja.
Mereka meyakini bahwa raja mereka adalah dewa. Tuhan dari segala Tuhan.
Para raja mereka pun dengan percaya
diri terus mempeloporkan diri sebagai Tuhan, agar selalu memiliki
kekuasaan mutlak yang tak tertandingi. Padahal dalam kitab suci Al Quran
telah dijelaskan sedetail-detailnya mengenai penguasa langit dan bumi.
Hanya Allah semata yang berhak disembah, bukan raja manapun, apalagi
Fir’aun. Bagaimana bisa seorang manusia diagung-agungkan di hadapan
manusia lain? sementara dia bisa mati dan dimumikan oleh manusia lain.
Diabadikan sebagai percontohan tanda kekuasaan Allah. Bagaimana manusia
bisa tidak memahami bahwa ada Allah SWT Tuhan Yang Abadi, tidak
dilahirkan, tidak bisa dimumikan?
Silahkan renungkan melalui beberapa artikel berikut ini. Semoga Allah membukakan pintu hati kita. aaamiin
Diselamatkannya Jasad Fir’aun
Firman ALLAH SWT :
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu* supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS Yunus 92)
*Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya Firaun, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir
Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya.
Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).
Maha Suci Allah SWT yang berfirman: “Alif, Laam, Miim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 1-2)
Jadi,,, 1 lagi BUKTI,,, Islam TERBUKTI BENAR!
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu* supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS Yunus 92)
*Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya Firaun, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir
Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya.
Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).
Maha Suci Allah SWT yang berfirman: “Alif, Laam, Miim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 1-2)
Jadi,,, 1 lagi BUKTI,,, Islam TERBUKTI BENAR!
dan-Misterinya, Kisah
mengenai Mukjizat Nabi Musa (Moses) yang membelah Laut Merah dengan
tongkatnya untuk menghindari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya
tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita. Di kitab suci Al-Qur’an
dan Alkitab, kronologi pengejaran dikisahkan begitu gamblang walaupun
terdapat sedikit perberbedaan kisah diantara keduanya.Namun
yang pasti, kedua kitab suci tersebut mengisahkan kepada kita mengenai
akhir yang menggembirakan bagi Musa beserta Kaum Bani Israel karena
dapat meloloskan diri dari kejaran Fir’aun beserta bala tentaranya. Dan
bagi sang Fir’aun, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama
pasukannya di Laut Merah.
Walaupun Al-Quran dan Alkitab sudah cukup
jelas mengisahkan kronologi peristiwa itu terjadi, namun masih terdapat
teka-teki mengenai siapa sebenarnya Fir’aun yang memimpin pengejaran
terhadap Musa beserta kaum Bani Israel? Al-Quran dan Alkitab tidak
menyebutkan secara mendetail siapakah Fir’aun yang dimaksud. Fir’aun
(Pharaoh) merupakan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir kuno.

Asal usul istilah Fir’aun sebetulnya
merujuk kepada nama istana tempat berdiamnya seorang raja, namun lama –
kelamaan digunakan sebagai gelar raja-raja Mesir kuno. Banyak Fir’aun
yang telah memimpin peradaban yang terkenal dengan penginggalan Piramida
Khufu-nya itu, mulai dari Raja Menes -sekitar 3000 SM, pendiri
kerajaan, pemersatu Mesir hulu dan hilir – hingga Mesir jatuh dibawah
kepemimpinan raja-raja dari Persia.Sejauh ini telah banyak studi yang
dilakukan untuk mengidentifikasi siapakah Fir’aun yang sedang berkuasa
saat peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel dari tanah Mesir.
Berikut beberapa kandidatnya :* Ahmose I (1550 SM – 1525 SM)
* Thutmose I (1506 SM – 1493 SM)
* Thutmose II (1494 SM – 1479 SM)
* Thutmose III (1479 SM – 1425 SM)
* Amenhotep II (1427 SM – 1401 SM)
* Amenhotep IV (1352 SM – 1336 SM)
* Horemheb (sekitar 1319 SM – 1292 SM)
* Ramesses I (sekitar 1292 SM – 1290 SM)
* Seti I (sekitar 1290 SM – 1279 SM)
* Ramesses II (1279 SM – 1213 SM)
* Merneptah (1213 SM – 1203 SM)
* Amenmesse (1203 SM – 1199 SM)
* Setnakhte (1190 SM – 1186 SM)Dari daftar beberapa Fir’aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir’aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir’aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir’aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.
* Thutmose I (1506 SM – 1493 SM)
* Thutmose II (1494 SM – 1479 SM)
* Thutmose III (1479 SM – 1425 SM)
* Amenhotep II (1427 SM – 1401 SM)
* Amenhotep IV (1352 SM – 1336 SM)
* Horemheb (sekitar 1319 SM – 1292 SM)
* Ramesses I (sekitar 1292 SM – 1290 SM)
* Seti I (sekitar 1290 SM – 1279 SM)
* Ramesses II (1279 SM – 1213 SM)
* Merneptah (1213 SM – 1203 SM)
* Amenmesse (1203 SM – 1199 SM)
* Setnakhte (1190 SM – 1186 SM)Dari daftar beberapa Fir’aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir’aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir’aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir’aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.

Sifatnya yang kadang tirani terhadap
masyarakat kelas bawah, membuat sejarawan banyak yang berspekulasi
dengan menyebutkan ia sebagai raja yang memperbudak Bani Israel.
Walaupun demikian, tidak ada bukti arkeologi yang benar-benar memperkuat
dugaan tersebut. Selain itu periode masa hidupnya juga dikatakan tidak
cocok dengan kemungkinan terjadinya peristiwa keluaran.Kemudian menilik
ke Raja Merneptah – putra Ramesses II – yang berkuasa setelah Ramesses
II mangkat, ia juga bukan merupakan Fir’aun yang dimaksud mengingat pada
masa pemerintahannya, Merneptah pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel
telah tiba di tanah Kana’an. Itu artinya, peristiwa keluarnya Musa
beserta Bani Israel telah lama terjadi sebelum ia berkuasa. Lalu
bagaimana dengan Seti I, ayah dari Ramesses II ?Bagaimanapun juga, ahli
sejarah Alkitab mengatakan peristiwa keluaran ini terjadi disekitar 1400
SM, itu jauh dari masa pemerintahan Seti I. Beberapa Sejarawan yang
menggunakan metode penelitian dengan cara mencocokkan kronologi di dalam
catatan-catatan peninggalan Mesir Kuno dengan perkiraan waktu keluaran
pada kitab suci menyimpulkan, kemungkinan peristiwa itu terjadi saat
Mesir kuno dibawah pimpinan Raja-raja Dinasti ke-18.Dinasti ke-18
mencakup beberapa raja, yakni Thutmose I (1506 SM – 1493 SM), Thutmose
II (1494 SM – 1479 SM), diselingi oleh kepempinan Fir’aun wanita yaitu
Ratu Hatsepsut (1479 SM -1458 SM) kemudian Thutmose III (1479 SM – 1425
SM).


Benarkah Thutmose II, Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah?
Menurut studi yang dilakukan oleh
Sejarawan Alan Gardiner, setelah kematian Thutmose I dan masa
persinggahannya selama 40 tahun di Madyan / Midian, Musa memutuskan
untuk kembali ke tanah Mesir tempat beliau dibesarkan. Allah menugaskan
Musa untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir’aun.Pada
saat itu, Mesir dipimpin oleh Raja Thutmose II yang memperistri Ratu
Hatshepsut. Thutmose II, menurut sejarah bukanlah sosok Fir’aun yang
hebat, sebaliknya istrinya Hatshepsut yang banyak berperan penting bagi
kemajuan kerajaan. Walaupun bukan merupakan sosok pemimpin yang
dikatakan berpengaruh, Gardiner tetap meyakini Thutmose II merupakan
kandidat terkuat fir’aun yang melakukan pengejaran terhadap Musa beserta
kaum Bani Israel.Hal itu
dikarenakan banyaknya kecocokan dengan studi sejarah yang ia lakukan.
Garnier juga menambahakan bahwa di pusara tempat berdiamnya mummi
Thutmose II, hampir tidak ditemukan ornamen-ornamen dan benda-benda
berharga “semewah” pusara raja-raja Mesir kuno yang lainnya. Ada kesan
bahwa raja ini tidak begitu disukai dan dihormati oleh rakyatnya,
sehingga mereka tak peduli dengan kematian sang Raja.Selain itu,
kematiannya yang mendadak juga menjadi salah satu alasannya. Penelitian
terhadap Mummi Thutmose II yang ditemukan di situs Deir el-Bahri pada
tahun 1881 mengungkapkan bahwa terdapat banyak bekas cidera di tubuhnya,
dan Mummi-nya ditemukan tidak dalam kondisi yang bagus. Hal ini mungkin
menandakan Thutmose II mati secara tidak wajar.
Apakah cidera di tubuhnya itu akibat
hempasan kekuatan gelombang Laut Merah yang secara tiba-tiba tertutup
kembali? Wallahu ‘alam Bishawab Al-Quran sendiri mengisahkan detik-detik
terakhir kehidupan Sang Fir’aun :Dan Kami memungkinkan Bani Israel
melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya,
karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu
telah hampir tenggelam berkatalah ia ;” Saya percaya bahwa tidak ada
Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya
termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. ( QS Yunus
90).Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa Fir’aun mencoba memohon
kepada Allah agar ia diselamatkan ketika air mengenggelamkan raganya.
Namun sangatlah jelas bahwasannya tindakan Fir’aun hanyalah suatu
kebohongan semata sebagai alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri
dari maut.Setelah sang Fir’aun tewas pada periode pemerintahannya yang
tergolong singkat, besar kemungkinan jalannya roda pemerintahan diambil
alih sementara oleh sang Ratu yang tak lain ialah Hatshepsut sebelum
akhirnya Thutmose III naik tahta.
Jika benar Thutmose II merupakan
Fir’aun yang dimaksud, ada suatu kemungkinan kronologi sejarahnya
menjadi demikian :Pertama, Musa dibesarkan dilingkungan kerajaan Mesir
saat Thutmose I berkuasa, dan istri Thutmose I yang menemukan bayi Musa
saat hanyut di Sungai Nil.Kedua,
selang puluhan tahun setelah Musa melarikan diri dari tanah Mesir
karena ancaman hukuman mati akibat peristiwa terbunuhnya seorang
prajurit kerajaan olehnya, ia kembali untuk menyampaikan ajaran Allah
kepada Fir’aun. Namun pada saat itu mungkin Thutmose I telah meninggal
dan digantikan putranya Thutmose II.Mummi Thutmose II
Mengapa Thutmose II Diyakini Sebagai Firaun Yang Tenggelam di Laut
Merah Sedangkan Mummi-nya Sendiri Berhasil Ditemukan? Pertanyaan diatas
memang kerap ditanyakan. Mereka yang bertanya kebanyakan beranggapan
bahwa Jasad Fir’aun tidak mungkin berhasil ditemukan apalagi dalam
bentuk Mummi, sebab telah tenggelam di Laut Merah bersama bala
tentaranya.
Bagi kawan-kawan muslim, Al-Quran mengisahkan kepada kita sebagai berikut: Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami. ( QS Yunus 91-92). Tentunya ayat diatas sudah cukup menjelaskan mengapa Allah dengan sengaja menyelamatkan jasad sang Fir’aun.
Bagi kawan-kawan muslim, Al-Quran mengisahkan kepada kita sebagai berikut: Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami. ( QS Yunus 91-92). Tentunya ayat diatas sudah cukup menjelaskan mengapa Allah dengan sengaja menyelamatkan jasad sang Fir’aun.
Setelah Tenggelam Fir’aun (ramses II)
ditengah-tengah penyerangan terhadap bani Israel, anggota Istana yang
selamat dari tenggelam melakukan pengawetan jasad dan membawa peti mati
dengan menggunakan perahu di sungai Nil menuju kota Tibah (kota historis
diMesir) yang disertai perahu-perahu lain yang didalamnya terdapat para
rahib, para menteri, dan pembesar kaum fir’aun. Peti mati itu pun
ditarik ke kuburan yang telah dipersiapkan oleh Ramses II untuk dirinya
di Lembah Raja.Pada beberapa
tahapan ini, doa-doa pun dibacakan dan upacara-upacara jenazah pun
diselenggarakan. Dengan cara seperti itulah kehidupan ramses II
berakhir. Ia merupakan Firaun terbesar, maskipun bukan yang terbesar
secara mutlak. Karena dia mampukembali kepada pentas sejarah di masa
kita sekarang ini.
sumber;http://aspal-putih.blogspot.com dll (maaf dan lainnya lupa tapi smua sumber terpercaya)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar