Sabtu, 13 September 2014

rizkha dewi



Hilangnya Pelangi

     Menyedihkan memang, ketika kita kehilangan orang yang kita kasihi. Saat kita amat menyayanginya, ia malah meninggalkan kita begitu saja, dg alasan yg tidak jelas. Memang masih terlalu awal untukku menangisinya, memberikan segala usaha untuk mempertahankan hubungan ini, meskipun belum terlalu dewasa menyikapinya. PERIH, ya! Itu yang ku rasakan saat ini. Entah harus bagaimanan lagi untuk memulai. Menorehkan tinta lagi di tumpukan kertas itu yang disebut kenangan. Bagaimana bisa kita menulisnya lagi? Sudah tiada lagi kesempatan untuku menyatukan kertas usang yang telah robek itu. Tak bisa lagi ku menyusun nya menjadi sebuah kertas utuh.  Kepercayaan nya kepadaku sudah hancur, telah aku hancurkan sendiri. Orang lain selalu bilang bahwa, jalanku masih panjang. Terlalu bodoh untukku menangisi ataupun mengemis cinta kepadanya. Tapi pikirku berkata lain, aku tidak pernah mengemis cinta, hanya membuktikan bahwa dia amat berharga di hatiku. Hanya alasan kecil.

    Tapi sadarkah engkau? Bagaimana jika kamu telah menyayangi seseorang, tapi ia malah membuangmu, melepasmu begitu saja? Bagaimana perasaanmu? Saat kita tau bahwa dulu berusaha mencintainya adalah hal yang sulit. Tapi mengapa sekarang saat aku begitu menyayanginya, ia malah pergi? Hanya itu yang aku sesalkan. Bagaimana dengan hatimu? Saat kita terlanjur menyayangi seseorang, mau berjuang apapun untuknya, menjadikan ia sebagai salah satu semangat untuk menuju kesuksesan. Namun ia malah meninggalkanmu begitu saja? Mungkin memang masih terlalu muda untuk menangisi satu orang. Tapi apa dayaku? Pikiran dan hatiku telah diperbudak oleh rasa sayang yang terlalu besar kepadanya. Kini aku telah menjadi seekor merpati yang jatuh di lautan karena tertembak sang pemburu. Sayapku telah terluka hingga aku tak dapat terbang jauh. Aku terbelenggu dalam kepedihan yang tak kunjung berakhir. Apa engkau bisa merasakan nya? Apa engkau bisa rasakan hancurnya hati ini?

Angin berbisik kepadaku untuk tetap tinggal dalam luka ini. Namun seberkas cahaya datang dalam anganku untuk mengajakku bangkit dan tinggalkan luka itu. Terlalu berat bagiku untuk melepas semua. Melepas kenangan itu. Apa kamu tau, betapa berharganya dirimu dimataku? Sadarkah engkau?

Saat aku berdiri, engkau duduk termenung. Saat aku terdiam, kau menari-nari disana. Saat aku menangis, kau tertawa lepas. Kapan kita merasakan hal yang sama bersama-sama? Kenapa kita selalu berbeda? Mengapa kau berlari kencang? Sehingga sulit untukku mengejarmu. Mengapa kita tak pernah berada di tempat yang sama untuk melepas beban ataupun sekedar berhenti dari kenyataan? Mengapa kita selalu merasa berada di dunia yang berbeda, meskipun kita sedang bersama saat itu?

        

      Dan kini hilanglah semua kenangan itu. Yang biasanya kita menggoreskan tinta ke tumpukan kertas itu. Sekarang sudah tak pernah kita lakukan. Tiada lagi tulisan hari hari kita. Semua bagaikan sehelai kertas yang  termakan api hingga menjadi debu. Meskipun masih bisa kurasakan kenangan itu. Setiap pagi, setiap malam. Selalu terbayang dengan kenangan kita. Mengapa kita tak pernah ada pada satu musim yang sama? Mengapa selalu ada perbedaan diantara kita? Apakah aku yang salah? Atau jangan jangan engkau? Entahlah. Ku memutuskan untuk memilih seberkas cahaya itu .

Kini ku sadar. Selama ini kita hanya bersama, bukan Bersatu.

“Ternyata dia bukan matahari, dia hanya pelangi yang hadir dengan segala warnanya yang indah tapi hanya sejenak..” (mengejar matahari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar