Hilangnya Pelangi
Menyedihkan memang, ketika kita kehilangan orang yang kita
kasihi. Saat kita amat menyayanginya, ia malah meninggalkan kita begitu saja,
dg alasan yg tidak jelas. Memang masih terlalu awal untukku menangisinya,
memberikan segala usaha untuk mempertahankan hubungan ini, meskipun belum
terlalu dewasa menyikapinya. PERIH, ya! Itu yang ku rasakan saat ini. Entah
harus bagaimanan lagi untuk memulai. Menorehkan tinta lagi di tumpukan kertas
itu yang disebut kenangan. Bagaimana bisa kita menulisnya lagi? Sudah tiada
lagi kesempatan untuku menyatukan kertas usang yang telah robek itu. Tak bisa
lagi ku menyusun nya menjadi sebuah kertas utuh. Kepercayaan nya kepadaku sudah hancur, telah
aku hancurkan sendiri. Orang lain selalu bilang bahwa, jalanku masih panjang.
Terlalu bodoh untukku menangisi ataupun mengemis cinta kepadanya. Tapi pikirku
berkata lain, aku tidak pernah mengemis cinta, hanya membuktikan bahwa dia amat
berharga di hatiku. Hanya alasan kecil.
Tapi sadarkah engkau? Bagaimana jika kamu telah menyayangi
seseorang, tapi ia malah membuangmu, melepasmu begitu saja? Bagaimana
perasaanmu? Saat kita tau bahwa dulu berusaha mencintainya adalah hal yang
sulit. Tapi mengapa sekarang saat aku begitu menyayanginya, ia malah pergi?
Hanya itu yang aku sesalkan. Bagaimana dengan hatimu? Saat kita terlanjur
menyayangi seseorang, mau berjuang apapun untuknya, menjadikan ia sebagai salah
satu semangat untuk menuju kesuksesan. Namun ia malah meninggalkanmu begitu
saja? Mungkin memang masih terlalu muda untuk menangisi satu orang. Tapi apa
dayaku? Pikiran dan hatiku telah diperbudak oleh rasa sayang yang terlalu besar
kepadanya. Kini aku telah menjadi seekor merpati yang jatuh di lautan karena
tertembak sang pemburu. Sayapku telah terluka hingga aku tak dapat terbang
jauh. Aku terbelenggu dalam kepedihan yang tak kunjung berakhir. Apa engkau
bisa merasakan nya? Apa engkau bisa rasakan hancurnya hati ini?
Angin berbisik kepadaku untuk tetap tinggal dalam luka ini. Namun seberkas
cahaya datang dalam anganku untuk mengajakku bangkit dan tinggalkan luka itu.
Terlalu berat bagiku untuk melepas semua. Melepas kenangan itu. Apa kamu tau,
betapa berharganya dirimu dimataku? Sadarkah engkau?
Saat aku berdiri, engkau duduk termenung. Saat aku terdiam,
kau menari-nari disana. Saat aku menangis, kau tertawa lepas. Kapan kita
merasakan hal yang sama bersama-sama? Kenapa kita selalu berbeda? Mengapa kau
berlari kencang? Sehingga sulit untukku mengejarmu. Mengapa kita tak pernah
berada di tempat yang sama untuk melepas beban ataupun sekedar berhenti dari
kenyataan? Mengapa kita selalu merasa berada di dunia yang berbeda, meskipun
kita sedang bersama saat itu?
Dan kini hilanglah semua kenangan itu. Yang biasanya kita
menggoreskan tinta ke tumpukan kertas itu. Sekarang sudah tak pernah kita
lakukan. Tiada lagi tulisan hari hari kita. Semua bagaikan sehelai kertas
yang termakan api hingga menjadi debu.
Meskipun masih bisa kurasakan kenangan itu. Setiap pagi, setiap malam. Selalu
terbayang dengan kenangan kita. Mengapa kita tak pernah ada pada satu musim
yang sama? Mengapa selalu ada perbedaan diantara kita? Apakah aku yang salah?
Atau jangan jangan engkau? Entahlah. Ku memutuskan untuk memilih seberkas
cahaya itu .
Kini ku sadar. Selama ini kita hanya bersama, bukan Bersatu.
“Ternyata dia bukan matahari, dia hanya pelangi yang hadir dengan segala
warnanya yang indah tapi hanya sejenak..” (mengejar matahari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar